Usut Tuntas Skandal Pengaturan Skor di IBL!

Pelatih Satria Muda Pertamina Jakarta, Youbel Sondakh, meminta PP PERBASI mengusut tuntas skandal pengaturan skor di Indonesian Basketball League (IBL). Para pemain juga akan diingatkan ada sanksi yang mengancam jika terlibat skandal.

Pengurus Pusat Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (PP PERBASI) dan operator Indonesia Basketball League (IBL) telah menjatuhkan  sanksi kepada delapan pemain dan satu official Siliwangi Bandung yang terlibat pengaturan skor. Oleh PERBASI, mereka diganjar hukuman berbeda-beda. Sementara IBL memberikan sanksi berupa larangan bertanding seumur hidup.

“Pertama kali mendengar cukup kaget. Bagi kami para atlet , sudah latihan capek-capek tapi ada yang melakukan seperti itu, artinya mereka tidak menghargai olahraga ini. saya PB PERBASI sudah ambil keputusan soal ini, ” kata Youbel.

“Untuk ditawari, jujur saya tidak pernah. Tetapi, saya tahu saat menjadi pelatih, dalam arti ada yang janggal dalam game tertentu itu pernah saya alami. Misalnya harus ada yang menang dengan angka tertentu, tapi justru sebaliknya. Pasti akan timbul pertanyaan. Jika menonton basket mengapa kuarter begini. Tapi bukan berarti saya tahu ada yang ditawarin atau tidak, cuma melihat yang aneh pasti kelihatan,” dia berkata.

Youbel menilai hal itu bisa muncul karena dengan kemudahan komunikasi. Namun, tidak berarti dapat ditoleransi.

“Sekarang karena era digital semua orang dapat berkomunikasi, bisa betting (taruhan) di internet. Dulu belum terlalu karena hanya di GOR saja tapi mungkin karena lingkupnya lebih luas, uang yang ditawarkan semakin besar, pemain tambah banyak, ditambah kemajuan teknologi makanya ada seperti ini,” Youbel menjelaskan.

“Jangan salah juga mungkin juga orang dari luar yang menjadi bandarnya,” ujar pelatih 33 tahun itu.

Youbel mengingatkan agar para pemain tak tergoda untuk mencoba pengaturan skor. Sebab, risiko bakal ditanggung oleh pemain seorang diri. Tidak hanya sanksi larangan bermain, tetapi juga mendapat sanksi sosial.

“Sekarang karena sudah ada kejadian dan preseden buruk buat pemain. Ya mereka tinggal memilih. Kami juga tidak bisa memaksa, kamu tidak boleh ini, tetapi tanggung sendiri risikonya. Harusnya mereka sadar sekalinya hancur mereka sampai tua nanti akan trus dibicarakan orang. Itu saja pelajarannya,” kata pelatih yang pernah membawa tim Satria Muda menang di Perbasi Cup 2016 ini.

“Sebenarnya sanksi sosial yang lebih besar karena ketika berkerja dengan orang lain. Ya untuk pemain mungkin golden age-nya sampai 30 tahun, tapi untuk selanjutnya bagaimana? mereka kan tidak pikirkan bagaimana nanti. Ya ini jadi pelajaran lah buat semua,” kata dia. Bandar Judi Basket

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *